Muadzin Pemilik Suara Merdu Selain Bilal, Siapakah Dia?

Foto: Ilustrasi Adzan

KIBLAT.NET – Kita mengenal bahwa Bilal bin Rabah adalah muadzin yang masyhur di zaman Rasulullah SAW. Dia adalah sahabat yang mempunyai banyak keutamaan. Keimanannya tetap teguh meskipun harus menjalani siksaan dari kaum Quraisy di tengah panasnya padang pasir. Keteguhannya semakin kuat saat ia berucap “Ahad… Ahad… Ahad” guna meyakinkan hatinya akan keesaan Allah SWT.

Selain sahabat Bilal, ternyata ada seorang muadzin lainnya yang rutin mengumandangkan adzan bagi penduduk Mekkah. Ia masuk Islam setelah Nabi mengusap kepalanya sembari mendoakan keberkahan baginya. Ya, serta merta dirinya masuk Islam setelah rambutnya di sentuh Rasulullah SAW dan tidak mencukur rambutnya hingga ia meninggal dunia karena sentuhan Rasul pada rambutnya. Siapakah dia? Dia adalah Abu Mahdzurah.

Kisah Islamnya Abu Mahdzurah

Ketika itu, Abu Mahdzurah keluar dari Mekkah bersamaan dengan saat Rasulullah SAW keluar dari Madinah untuk pergi berperang. Siang itu Abu Mahdzurah sedang menggembalakan kambing bersama beberapa anak kaum musyrikin dan beberapa anak keturunan Quraisy. Rasulullah SAW singgah di satu lembah dan Abu Mahdzurah singgah di lembah yang lain.

Tibalah waktu Zuhur. Bilal pun berdiri hendak mengumandangkan adzan. Melihat itu, Abu Mahdzurah ikut berdiri dengan maksud ingin memperolok-olok adzan Bilal dari belakang gunung.

Bilal mengumandangkan, “Allâhu Akbar,” lalu Abu Mahdzurah menirukannya dengan mengumandangkan kalimat yang sama.

Bilal mengumandangkan adzan di hadapan kaum muslimin, sedangkan Abu Mahdzurah mengumandangkan adzan di hadapan kambing gembalaannya.

BACA JUGA  Kontroversi Baca Al-Quran Langgam Jawa

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW meminta Ali dan Zubair untuk mendatangkan pemilik suara tersebut. Lalu keduanya pergi ke balik gunung dan berhasil menangkap sekelompok orang di sana, kemudian membawa mereka ke hadapan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah tadi yang mengumandangkan adzan di antara kalian?”

Mereka pun terlihat malu-malu.

Lalu Rasulullah SAW berkata, “Kumandangkanlah adzan oleh kalian!”

Lantas mereka pun mengumandangkan adzan satu per satu. Orang pertama mengumandangkan adzan, akan tetapi suaranya berbeda dengan suara merdu tadi. Orang kedua tidak jauh berbeda keadaannya. Lalu, terdengarlah suara merdu dari orang ketiga yang mengumandangkan adzan, ternyata dialah Abu Mahdzurah.

Nabi SAW bertanya, “Kamukah tadi yang mengumandangkan adzan?”

Abu Mahdzurah menjawab, “Iya.”

Lalu Rasulullah SAW mendekat dan melepaskan penutup kepala Abu Mahdzurah kemudian berdoa, “Ya, Allah. Berkahilah dia dan berilah dia hidayah untuk masuk Islam,” sembari mengusap kepalanya dan mengulangi doanya, “Ya, Allah. Berkahilah dia dan berilah dia hidayah untuk masuk Islam.”

Seketika itu Abu Mahdzurah langsung mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan engkau adalah Rasulullah.”

Lalu Nabi bersabda, “Pulanglah, jadilah muadzin bagi penduduk Mekkah. Engkaulah muadzin penduduk Mekkah.” (Hadits shahih yang ditakhrij oleh Abu Daud: 501. An-Nasâi: 2/827. Ahmad: 3/408. Ad-Dâruquthni: 68. Dan Al-Baihaqi: 1/392 dari haditsnya Abu Mahdzûrah)

Kemudian Abu Mahdzurah pun pergi mengumandangkan adzan untuk penduduk Mekkah.

BACA JUGA  Menjadi Keluarga Allah, Apa Maknanya?

Abu Mahdzurah berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencukur rambutku sampai aku mati. Rambut yang telah diusap oleh telapak tangan Rasulullah, demi Allah, tidak akan aku cukur sampai aku mati!” Panjang rambutnya pun sampai ke pertengahan badannya. Oleh karenanya, rambutnya harus dikepang.

Abu Mahdzurah pulang sebagai seorang muadzin, menjalankan tugas mulia yang terus dipelihara oleh anak keturunannya selama kurang lebih 300 tahun.

Ibrah dari Kisah

Dalam perjalanan kehidupan Abu Mahdzurah terdapat beberapa pelajaran. Pertama, hidayah didapatkan dari Allah SWT. Kedua, keindahan suara yang dimiliki olehnya. Ketiga,  berkah yang ada pada diri Rasulullah SAW dan telapak tangan beliau. Keempat, sesungguhnya pada jejak Rasulullah SAW terdapat berkah dan dapat dimintai berkahnya hanya dari beliau.

Demikianlah beberapa pelajaran berharga bersama generasi mulia. Kita memohon semoga Allah menghimpun kita bersama mereka di surga-Nya setelah menghabiskan umur kita dalam ketaatan kepada Allah SWT. Semoga keselamatan tercurahkan kepadamu, wahai Rasulullah dan semoga Allah ridha terhadapmu, wahai Abu Mahdzurah.

Penulis: Dhani El_Ashim