Bermain Video Game dan eSport Tak Sama dengan Olahraga

Jika sedang tidak ada kegiatan, apa yang Anda lakukan saat waktu senggang? Mungkin banyak yang bermain video game. Pada kenyataannya, pada detik ketika Anda membaca tulisan ini, ada jutaan orang yang sedang bermain game.

Mayoritas dari mereka, dan juga kita, memiliki motivasi utama untuk bermain game sebagai hiburan di waktu senggang. Namun, ternyata banyak dari pemain game yang bukan hanya bermain untuk kesenangan, melainkan mereka yang profesional, mereka yang hidup dan mendapatkan pemasukan dari kemampuan dan pencapaian mereka dalam bermain game.

Pemasukan yang kami maksud di sini bukan hanya uang kecil yang habis dipakai untuk jajan. Kami sedang membicarakan jumlah uang yang sangat besar.

“Acara seperti The International for Dota 2 dari Valve akan membuat para peserta kompetisi mendapatkan jumlah uang total sebanyak 2,8 juta dolar AS. Kita bisa bandingkan dengan pemenang Piala FA di Inggris yang mendapatkan 1,8 juta poundsterling (2,7 juta dolar AS),” kata Vas Roberts, seorang direktur pemasaran di Heaven Media, salah satu perusahaan ternama di dunia video game.

Kita sedang membicarakan sesuatu yang sudah lebih besar daripada sekadar video game. Sekarang ini ada istilah khusus yang sudah digunakan untuk menjelaskan fenomena di atas: eSports, atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: Olahraga Elektronik.

Apakah eSport Termasuk Olahraga?

Perdebatan mengenai eSport yang dikategorikan sebagai olahraga atau bukan memang mulai memanas akhir-akhir ini. “Menggunakan istilah ‘sport’ selalu menimbulkan argumen karena banyak orang yang memiliki interpretasi mereka sendiri kepada apa yang dimaksud dengan olahraga. Tapi kemampuan dan dedikasi yang para profesional berikan patut kita hormati,” masih menurut Roberts, seperti yang kami kutip dari The Market for Computer & Video Games (MCV).

Adam Apicella dari Major League Games (MLG) di Amerika Serikat juga menambahkan: “Tujuan kami selalu sama, yaitu mempresentasikan video game sebagai olahraga, bukan berkomentar bahwa bermain video game adalah olahraga. Dengan pemain-pemain kami, fan base yang bergairah di seluruh dunia, saya pikir kesamaan (video game) dengan olahraga tidak terbantahkan lagi.”

“Suatu hari nanti eSport akan dianggap sebagai olahraga. Ketika banyak orang menonton (American) football di televisi atau bertemu di pub untuk merayakan kemenangan timnya, mereka hanya menonton olahraga. Ini tidak ada bedanya dengan eSport,” tambahnya.

Untuk mendukung pernyataan Apicella di atas, kita bisa melihat final kejuaraan dunia Dota 2 yang ditonton oleh 20 juta orang tahun ini. Tahun lalu, pada kejuaraan League of Legends (LoL), ada 27 juta yang menonton finalnya dan 11,2 juta di antaranya menonton secara langsung. Bisa dibilang eSport sudah mulai menjadi maistream.

Seperti yang kita tahu, selain Dota 2 dan LoL yang tergolong multiplayer online battle arena, ada banyak tipe permainan yang tergolong eSport. Ada permainan berkelahi (fighting game), tembak-tembakan first-person shooter (FPS), permainan strategi (RTS atau real-time strategy), sampai permainan olahraga (sports games) yang benar-benar berkaitan langsung dengan olahraga.

Permainan olahraga yang terkenal di dunia dan memiliki kompetisi eSport-nya adalah FIFA Football (dari Electronic Arts Sports) dan NASCAR. Game-game tersebut memiliki kompetisi yang sudah terkenal juga, antara lain Electronic Sports World Cup dan Electronic Sports League.

Belum lagi jika kita sudah keluar konteks melihat game olahraga secara umum, kita bisa menemukan Pro Evolution Soccer, serial NBA 2K, Football Manager, dan lain sebagainya.

Jadi, apakah eSport merupakan olahraga? Definisi eSport memang masih kabur, tapi mungkin saja dalam beberapa waktu ke depan eSport bisa benar-benar menjadi olahraga, terutama dengan rencana organisasi eSport terbesar dunia, The International e-Sports Federation (IeSF), yang ingin bekerja sama dengan organisasi atletik untuk membuat eSport benar-benar sehat.

Kerja sama mereka dengan International Association of Athletics Federations (IAAF) tersebut memiliki proyek yang diberi nama “Athletics for a Better World”. Proyek ini dinilai “akan mengembangkan rencana latihan dan program kesehatan untuk membantu para pemain game profesional dan tingkat rekreasi untuk memiliki performa kesehatan yang tinggi”.

“IeSF ingin membuat eSport dianggap serius sebagai olahraga yang kompetitif,” menurut sebuah pernyataan dari mereka. “Karena selama satu dekade ini eSport telah terlupakan terutama ketika membicarakan para pemain game profesional. Banyak orang yang menyamakan mereka dengan stereotip orang yang malas ketika orang bermain game.”

Kerja sama IeSF dengan IAAF adalah salah satu langkah besar bagi eSport. Tahun lalu, eSport sudah masuk ke dalam TAFISA, The Association for International Sport for All, sebuah badan untuk gerakan olahraga kesehatan masyarakat dunia.

TAFISA sendiri sudah rutin mengadakan acara olahraga setaraf Olimpiade dengan nama TAFISA Games. 6th TAFISA World Sport for All Games bahkan akan dilangsungkan di Kota Jakarta pada 6 sampai 12 Oktober 2016.

Kenapa eSports Bisa Termasuk Menjadi Olahraga?

Co-host dari FOX News, Soledad O’Brien, mencoba membela eSport dengan mengatakan bahwa game yang kompetitif membutuhkan strategi dan pengerahan fisik yang tinggi juga, meskipun tidak setinggi ketika orang melakukan olahraga sungguhan seperti bermain sepakbola atau bola basket.

“Apapun yang memiliki struktur, model bisnis, hadiah uang, dan level kompetisi yang tergolong tingkat atas, itu semua bisa digolongkan sebagai ‘sport’,” katanya seperti yang kami kutip dari Gamespot.

Pada dasarnya, kata dasar ‘sport’ berasal dari ‘dis-ports’ dari Bahasa Perancis Kuno. Kata tersebut memiliki arti ‘untuk menghibur diri’ atau ‘untuk menyenangkan diri’. Ini juga yang merupakan konsep utama olahraga, yaitu untuk bermain. Berdasarkan pengertian di atas, bermain game bisa saja digolongkan menjadi olahraga.

Jika kita memposisikan perspektif kita setara dengan O’Brien, kita bisa lihat eSport dari kacamata bisnis, organisasi yang menaungi, jumlah penonton, jumlah siaran, cakupan media, sampai uang hadiah yang memang sudah setara, bahkan tak jarang lebih dari olahraga.

Begitu juga perjudian sangat marak di eSport. Perusahaan judi Skybet meluncurkan divisi eSport pada dua bulan yang lalu, mereka mendapatkan para penjudi untuk game LoL, Dota 2, dan Counter-Strike: Global Offensive.

Selain judi, doping juga semakin marak di eSport, seolah tak mau kalah dari olahraga sungguhan. Obat-obatan seperti ritalin, aspirin, dan propranolol menjadi doping yang paling sering ditemukan pada para pemain eSport. Propranolol misalnya, sering digunakan karena efeknya yang bisa membuat mata terus terbuka alias melek.

Hal-hal di atas inilah yang membuat eSport bukan hanya dianggap sebagai olahraga, tetapi juga membuatnya memiliki dampak kepada kebudayaan. Jika tidak ada alasan lain, jumlah uang yang sangat besar mungkin cukup untuk membuat eSport diakui sebagai olahraga, terlepas dari persyaratan fisik dan kesehatan.

Tapi Sebenarnya eSport Bukanlah Olahraga

Bermain-main dengan kata ‘sport’ atau ‘‘olahraga’ memang bisa menjerumuskan perspektif kita untuk memandang eSport. Tapi jika kita lihat pengertian ‘sport’ dari kamus Webster, kata itu memiliki pengertian “sebuah permainan, kompetisi, atau aktivitas yang memerlukan usaha fisik dan kemampuan yang dimainkan berdasarkan aturan, untuk kesenangan dan/atau pekerjaan”.

Sementara pengertian lain mengenai ‘sport’ adalah “segala tipe aktivitas fisik yang orang lakukan untuk tetap sehat atau untuk kesenangan”.

Kemudian jika kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita bisa menemukan pengertian olahraga sebagai “gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh (seperti sepak bola, berenang, lempar lembing)”.

Presiden ESPN, John Skipper, berkata bahwa eSport bukanlah olahraga, melainkan hanya sebuah kompetisi. Saya sebagai penulis, ditambah dengan pengertian ‘sport’ dan ‘olahraga’ lainnya, cenderung setuju dengan Skipper. Rasanya memang olahraga harus memiliki unsur atletisme, sedangkan eSport tidak.

Ditambah lagi dari sejumlah penelitian, para pemain game yang terlalu banyak bermain dinilai memiliki hubungan sosial yang kurang, serta tingkat depresi, stres, dan kecemasan yang tinggi.

Menurut sebuah artikel di New York Times berjudul “For South Korea, E-Sports Is National Pastime,” kecanduan video game akan membuat anak-anak jauh dari pendidikan. Selain itu, beberapa video game juga mengandung kekerasan, seperti Grand Theft Auto, serial Call of Duty, dan lain-lain, yang bisa mempengaruhi perilaku anak.

Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara tingkat aktivitas anak yang semakin berkurang karena bermain game apalagi melalui gadget mereka, dengan tingkat kekerasan di tingkat anak-anak, dan juga yang tidak kalah parah, tingkat obesitas dan rendahnya angka kesehatan masyarakat.

Saat ini semakin banyak anak-anak yang lebih senang bermain game daripada beraktivitas fisik sungguhan sebagai bentuk paling sederhana dari olahraga. Kita juga bisa melihat ini merupakan dampak dari semakin sedikitnya lapangan atau ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

Hal-hal negatif di atas adalah sangat berkebalikan dengan esensi olahraga, yaitu untuk sehat. Game hanya mengandung esensi ‘untuk menyenangkan diri’ dari olahraga. Inilah kenapa perkembangan eSport memang sangat baik untuk industri game, tetapi tidak baik untuk pemain game dan kesehatan masyarakat.

Jika video game disejajarkan dengan olahraga sepakbola atau basket, maka kita juga bisa memasukkan, misalnya shalat, jalan-jalan di mall, bekerja di lokasi kontruksi bangunan, dan bahkan masturbasi sebagai olahraga juga.

Secara banal, perdebatan ini lebih banyak muncul karena penggunaan nama ‘eSport’ yang memiliki kata ‘sport’ atau ‘olahraga’ di sana. Namun perdebatan yang sesungguhnya muncul bukan dari penamaan, melainkan dari manfaat yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut.

Inilah kenapa saya pribadi, yang juga gemar bermain video game, menganggap perkembangan eSport dan video game harus terus dikontrol. Bagaimanapun, video game tidak memiliki dampak kesehatan yang lebih besar daripada olahraga sungguhan.

 

sumber : http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2015/11/23/174544/3078400/1497/bermain-video-game-dan-esport-tak-sama-dengan-olahraga

(Visited 6 times, 1 visits today)

You might also likeclose