Benarkah Tembok Ya’juj Ma’juj telah ditemukan

yakjujDi samping Dajjal, Ya’juj Ma’juj adalah salah satu misteri yang melingkupi umat manusia sepanjang sejarah. Al-Quran menegaskan keberadaan kaum perusak itu dalam sejumlah ayat. Dalam beberapa hadits, Baginda Nabi SAW juga mengingatkan akan keluarnya Ya’juj Ma’juj menjelang Hari Kiamat tiba. Keberadaannya secara pasti menjadi teka-teki yang tak terpecahkan hingga kini, namun para peneliti mensinyalir persemayaman Ya’juj Ma’juj ada di deretan pegunungan antara Azerbaijan dan Armenia.

Syarif al-Idrisi mengungkapkan kesimpulan itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, seorang staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi bahwa tembok besi yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk menghalau Ya’juj Ma’juj terbuka. Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui ihwal tembok itu. Ia kemudian menitahkan Sallam untuk mencari lokasi tembok Ya’juj-Ma’juj. Dengan ditemani 50 orang, Sallam bergegas berangkat dalam sebuah ekspedisi petualangan yang memakan biaya yang sangat besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi karya al-Idrisi, bahwa Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar demi ambisinya ini.

Dengan penuh semangat, Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ terlebih dahulu ia menghadap Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia bertolak lagi ke arah utara, menyusuri daerah pedalaman Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq untuk penguasa Sarir, Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Selama 27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat sampai akhirnya ia tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam dan berbau tidak sedap. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah tak berpenghuni dan berantakan. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj Ma’juj di masa silam. Enam hari berikutnya mereka berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada tepat di balik gunung tempat Ya’juj Ma’juj berada.

Sallam kemudian mendaki pegunungan Ya’juj Ma’juj ini. Di sana ia menyaksikan bentangan gunung yang terpisah oleh lembah yang luasnya sekitar 150 meter. Perasaan mereka terperana begitu menyaksikan gerbang di sela-sela pegunungan. Lebar gerbang ini  137 m dengan kolom besar di kiri kanan yang terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga. Gambaran gerbang itu persis seperti yang tertulis dalam surat Al-Kahfi.

Ilustrasi Sallam mengenai tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail dalam kitab Nuzhat al-Musytaq (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Menurut penuturan Sallam, penduduk di sekitar pegunungan Ya’juj Ma’juj biasanya memukul kunci pintu besi sebanyak 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam yang menandai adanya makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj Ma’juj itu.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, Syarif al-Idrisi juga mengisahkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan: “Adakah Ya’juj Ma’juj pernah terlihat oleh kalian?” Mereka menjawab bahwa mereka pernah menyaksikan segerombolan orang bertubuh sangat kecil di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka.

Setelah sukses menuntaskan tugasnya, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), Samarkand (Uzbekistan), Kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah. Sementara itu, menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah, pegunungan Ya’juj Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan dan India dengan ordinat 38°N dan 67°E. Tempat itu dulu namanya Bab al-Hadid , akan tetapi kini lebih dikenal sebagai Buzghol-Khana dalam bahasa Turki. Orang Persia menyebutnya Dar-i-ahani. Semuanya bermakna “Pintu Gerbang Besi.” Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Pada Perang Dunia II, konon pemimpin Inggris Winston Churchill mengenali gerbang besi itu. Keberadaan dinding penutup Ya’juj Ma’juj di pegunungan yang terbentang antara Azerbaijan dan Armenia nyata dan bukan kisah fiktif belaka. Kelak gerbang itu bakal terbuka dan makhluk-makhluk yang mengerikan akan menyembur ke permukaan bumi untuk melancarkan kerusakan.

Asal-Usul

Ya’juj Ma’juj sebetulnya merupakan manusia biasa. Mereka adalah anak-cucu Nabi Nuh AS yang lahir dengan wujud tidak wajar. Dikisahkan bahwasanya menjelang wafat, Nabi Nuh AS memanggil anak-anaknya untuk menghadap beliau. Maka Sam AS segera datang menghadap, akan tetapi kedua saudaranya yaitu Ham dan Yafits tidak muncul. Akibat ketidak patuhan Ham dan Yafits, Allah menurunkan sanksi kepada mereka berdua. Yafits yang tidak datang karena lebih memilih berdua dengan istrinya (berhubungan suami istri) menurunkan anak bernama Sannaf. Kelak Sannaf mempunyai anak-anak yang lahirnya aneh. Mereka lahir bersamaan dalam wujud kurang sempurna. Ukuran dan bobot masing-masing juga berbeda. Ada yang fisiknya besar, sedangkan lainnya kecil. Bayi yang tubuhnya besar terus tumbuh hingga melebihi ukuran normal (raksasa), sementara yang bertubuh kecil ukurannya hanya sejengkal. Ada lagi bayi yang memiliki dua telinga lebar. Saat tidur, bayi itu menggunakan satu telinganya untuk  alas dan memakai telinga yang lain untuk selimut.  Anak-anak Sannaf inilah yang di kemudian hari dikenal sebagai Ya’juj Ma’juj.

Selain rupanya yang ganjil, Ya’juj Ma’juj mempunyai nafsu makan yang luar biasa besar. Bila mereka makan tanaman tertentu, maka tanaman itu akan berhenti tumbuh sampai layu dan mati. Bila mereka minum air dari suatu tempat, maka airnya tidak akan bertambah lagi. Banyak sumber air dan sungai menjadi kering karena ulah mereka. Masyarakat di sekeliling mereka mesti harus menanggung dampaknya yaitu krisis pangan dan air.

Lantaran keanehan-keanehan itu, masyarakat akhirnya mengucilkan Ya’juj Ma’juj. Mereka lantas mengisolasi diri di sebuah celah gunung di tengah komunitas induk bangsa-bangsa keturunan Yafits lainnya yakni bangsa Armenia, Rusia, Slavia, Romawi dan Turk di wilayah-wilayah luas seputar Laut Hitam. jika butuh makan dan minum, mereka keluar secara serentak ke daerah-daerah yang masih belum tersentuh oleh mereka. Mereka mampu menempuh perjalanan jauh dalam waktu relatif lebih pendek. Bagi golongan raksasa, mereka melangkah dengan jangkauan yang jauh lebih lebar dari manusia normal. Sedangkan golongan liliput, mereka berjalan sangat cepat seperti meluncur bersama angin lantaran bobot mereka yang sedemikian ringannya.

Ciri-ciri yang lain disebutkan dalam riwayat Al-Imam Ahmad yang diperoleh dari Ibnu Harmalah. Sementara  Ibnu Harmalah memperoleh dari bibinya yang menyebutkan:

خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَاصِبٌ إِصْبَعَهُ مِنْ لَدْغَةِ عَقْرَبٍ فَقَالَ: إِنَّكُمْ تَقُولُونَ لاَ عَدُوَّ وَإِنَّكُمْ لاَ تَزَالُونَ تُقَاتِلُونَ عَدُوًّا حَتَّى يَأْتِيَ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ عِرَاضُ الْوُجُوهِ صِغَارُ الْعُيُونِ شُهْبُ الشِّعَافِ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ

Baginda Rasulullah SAW berkhutbah dalam keadaan jarinya terbalut karena tersengat kalajengking. Beliau bersabda: “Kalian mengatakan tidak ada musuh. Padahal sesungguhnya kalian akan terus memerangi musuh sampai datangnya Ya’juj dan Ma’juj. (Mereka itu) Lebar mukanya, kecil (sipit) matanya, dan ada warna putih di rambut atas. Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, wajah-wajah mereka seperti perisai.” (HR. Ahmad)

Pada puncak keresahan masyarakat kala itu, Allah SWT mengutus Dzul Qarnain AS untuk menghadang laju Ya’juj dan Ma’juj. Menurut sejarawan muslim, Dzul Qarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari Daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzul Qarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang membentang luas, mulai ujung tanduk matahari di barat sampai timur.

Menurut Ibnu Abbas RA, Dzul Qarnain adalah seorang raja yang shalih dan suka mengembara. Ketika sampai di pegunungan antara Armenia dan Azzarbaijan, ia  membangun benteng atas permintaan penduduk setempat.

Fakta ini seperti yang tertera dalam surat Al-Kahfi ayat 94:

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

“Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj wa Ma`juj merusak di muka bumi. Kami akan siapkan imbalan yang besar agar kiranya engkau membuatkan benteng antara kami dengan mereka.”

Sesuai petunjuk Allah, Nabi Dzul Qarnain AS kemudian mengajak masyarakat di sekitar lokasi tempat tinggal Ya’juj Ma’juj untuk bersama-sama membuat dinding dari tembaga dan besi. Dinding itu akan menutup satu-satunya lubang keluar-masuk kaum Ya’juj Ma’juj. Setelah rampung, Dzul Qarnain mengajak masyarakat pindah ke tempat yang lebih layak huni.

Tembok yang diarsiteki Dzul Qarnain itu begitu kokoh. Allah SWT berfirman:

فَمَا ٱسْطَٰعُوٓا۟ أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا ٱسْتَطَٰعُوا۟ لَهُۥ نَقْبًا

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.” (QS Al Kahfi: 97). Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Dzul Qarnain AS bahwa dinding yang memagari Ya’juj Ma’juj akan terjaga dan baru akan terbuka menjelang datangnya Hari Kiamat. Lokasi dinding itu gaib (tidak terlihat) oleh mata manusia.

Dengan segala cara, Ya’juj Ma’juj yang telah terpenjara terus berupaya membuka dinding logam itu. Mereka menjilatinya karena tahu bahwa benda apa pun yang mereka sentuh dengan mulut mereka akan berhenti tumbuh, kering atau tergerus. Cara ini membuat bagian-bagian dinding yang mereka sentuh menjadi tipis.

Riwayat lain menyebutkan bahwa mereka terus berusaha mengikis dinding besi itu pada siang hari. Saat matahari akan terbenam mereka berhasil membuat dinding menjadi sangat tipis. Lalu pemimpin mereka berseru: “Besok kita lanjutkan kembali pekerjaan kita dan besok kita pasti bisa keluar dari sini.” Keesokkan harinya  ternyata dinding itu kembali seperti sedia kala atas kehendak Allah. Mereka bingung, akan tetapi mereka bekerja kembali untuk membuat lubang. Demikian kejadian ini terjadi berulang-ulang sampai Hari Kiamat. Untuk bertahan hidup selama terkurung di balik dinding, Allah SWT menumbuhkan sejenis lumut sebagai satu-satunya tumbuhan yang dapat terus tumbuh dan justru makin bertambah banyak setiap  kali dimakan oleh Ya’juj Ma’juj….(*)

 

Sumber: http://cahayanabawiy.com/2016/06/21/misteri-tembok-gaib-yajuj-majuj/

(Visited 59 times, 1 visits today)

You might also likeclose