12 Pelajaran Hidup Berharga dari Pria yang Telah Melihat 12.000 Kematian

Kematian. Tak ada satupun yang bisa menyangka kedatangannya. Bagaikan misteri, kematian datang seperti tamu yang tiba-tiba datang mengetuk pintu kehidupan kita.

Selama 44 tahun, pria bernama Bhairav Nath Shukla telah menjadi pengelola rumah singgah bernama Mukti Bhawan. Bertempat di India, satu dari tiga rumah singgah ini telah lama dikenal sebagai tempat dimana orang-orang datang di saat-saat terakhir mereka di dunia. Mereka yang datang menanti kematian dan berharap menemukan kedamaian di tempat ini.

Shukla telah menjadi saksi 12.000 kematian manusia yang terjadi langsung di depan matanya. Dari belasan ribu kejadian itu, Shukla berbagi kepada kita, pelajaran hidup yang begitu berharga.

1. Selesaikanlah semua masalah sebelum kamu ‘pergi’ untuk selamanya. Jangan tunda-tunda lagi.

pergi-83db2bfa705f0d393b2c536271a8e41a.jpeg

Pelajaran ini didapatkan Shukla saat bertemu Shri Ram Sagar Mishr. Mishr memiliki enam orang adik dan sangat dekat dengan adik bungsunya. Singkat cerita, Mishr bertengkar hebat dengan adiknya.

Menjelang saat terakhirnya, Mishr meminta Shukla mengirimkan surat untuk sang adik. Di hari sang adik datang, mereka saling bermaafan dan saat itulah Mishr menutup mata dengan tenang selama-lamanya.

“Orang-orang membawa begitu banyak beban yang sebetulnya tidak penting sepanjang hidupnya. Mereka hanya ingin melepaskan beban itu di akhir perjalanan hidupnya. Triknya bukan pada menghindari konflik selama hidup, tetapi menyelesaikannya secepat mungkin.”

2. Kesederhanaan adalah kebenaran hidup.

kesederhanaan-d4e56dc8d342abb5245af394c9ab0161.jpg

Kesederhanaan hidup bisa dicapai dengan tidak boros dan kepuasan. Manusia akan mengumpulkan lebih banyak materi dan semakin banyak pula menciptakan kebutuhan.

3. Menyaring sifat-sifat buruk orang lain.

menyaring-ae5f5104bb2dc65a5623c0edb2edfcba.jpg

Shukla menyatakan, setiap orang memiliki sifat baik dan buruk. Tetapi bukannya menolak sifat buruk mereka, melainkan kita harus mencari kualitas baiknya. Banyak orang ‘menyiksa’ hidupnya sendiri dengan terus berfokus pada hal negatif orang lain atau dirinya sendiri. Padahal sebenarnya keadaan bisa lebih baik jika kita berfokus pada hal yang positif.

4. Jangan ragu meminta bantuan orang lain.

bantuan-f6b1aa631a70ea92d684b7fee6eb0bb4.jpg

Shukla percaya kita harus banyak membantu orang lain. Tetapi terkadang manusia banyak memendam gengsi dan rasa takut untuk meminta bantuan orang lain. Takut terlihat tak mampu dan merepotkan. Padahal banyak hal yang kita tak mampu mengerti sendiri. Orang lain punya pengetahuan lebih daripada itu dan pengetahuan mereka dapat membantu hidup kita jadi lebih mudah dan lebih baik.

5. Menemukan keindahan dalam hal-hal sederhana.

menemukan-db774350d0a4bf4b43c392b9f27b9327.jpg

Di Mukti Bhavan, lagu-lagu pujian dilagukan tiga kali sehari. Beberapa orang berhenti dan mengagumi suara instrumen seolah baru mendengar pertama kali. Padahal mereka sudah pernah mendengarkannya. Mereka berhenti sejenak untuk menghargai dan menemukan keindahan di dalamnya.

Orang yang terlalu kritis atau terlalu bangga pada dirinya sendiri, cenderung sulit menemukan sukacita dalam hal kecil. Pikiran mereka disibukkan dengan hal-hal yang tampaknya “lebih penting” dan “lebih besar” sehingga sulit melihat keindahan dalam kesederhanaan.

6. Penerimaan adalah kunci kebebasan.

penerimaan-e3209fa22d3bf41f13dc72e7217d57e8.jpg

Penolakan dan penghindaran akan menyebabkan kecemasan. Kedua hal ini membuat manusia selalu dibayangi rasa takut. Sebaliknya, menerima situasi yang tengah terjadi membuat manusia menjadi lebih ringan dan mampu berpikir lebih jernih. Penerimaan akan membebaskan diri kita, itulah yang dipercayai oleh Shukla.

7. Memperlakukan orang lain setara, membuat hidup lebih mudah.

setara-62a4e562d491c30cb4a7d619f1c4e55f.jpg

Shukla mengakui, kehidupan menjadi sulit jika ia memperlakukan tamu-tamu di Mukti Bhavan berbeda berdasarkan kasta, keyakinan, warna kulit, status sosial dan ekonomi. “Hari dimana Anda memperlakukan semua orang sama adalah hari dimana Anda akan bernafas ringan. Mengurangi kekhawatiran tentang siapa yang mungkin tersinggung atau tidak. Membuat pekerjaan dan hidupmu menjadi lebih mudah,” katanya.

8. Jika kamu menemukan tujuan, lakukan sesuatu untuk mewujudkannya.

51078515-l-3a70a066a901b417c4bc0f77af567ba5.jpg

Shukla telah melihat, banyak orang yang tahu tujuan mereka tetapi tidak melakukan apapun untuk mewujudkannya. Kita harus punya sudut pandang terhadap tujuan tersebut. Hal itu akan membantu kita untuk mengukur waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Seringkali kita terjebak pada pikiran diri sendiri bukan?

9. Mengubah kebiasaan menjadi lebih bernilai.

kebiasaan-8111bd3cb62c1d08fe3e330706616c11.jpg

Shukla menyarankan agar manusia menanamkan kebiasaan baik demi nilai kehidupan yang lebih baik juga. “Seperti membentuk otot yang tidak dapat terjadi secara instan, melainkan harus dilatih setiap hari.”

10. Pilihlah apa yang ingin kamu pelajari.

pelajari-d8b7b0c0074fb62bb563b9134678a110.jpg

Banyak orang di hari-hari terakhir kehidupannya, merasa menyesal karena tak mampu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ibaratnya, ingin bicara, berjalan atau berkomunikasi tetapi tak mampu. Mereka kemudian teringat hal-hal yang membuat hati mereka senang, apa yang membuat hidupmu menjadi lebih bergairah dan bernilai.

11. Kita tidak memutus hubungan, tetapi kita memutuskan hubungan dengan cara pikir mereka.

putus-b65835eb210a03aebfa8ed15db1e6933.jpg

Ketidakcocokan dengan orang lain bisa menyebabkan hubungan dengan seseorang ‘putus’. Sesungguhnya kita tidak benar-benar memutus hubungan dengan orang lain, tetapi kita menghindari konflik karena cara pikir yang berbeda. Ada yang memutuskan untuk menjauh, sangat jauh … Pahamilah ini akan melepaskan beban diri dari kepahitan dan rasa dendam.

12. Bersedekahlah.

sedekah-4162c15f37082445e0e88f85d307dd8f.jpg

Bersedekah, menurut Shukla bukanlah hal yang secara utuh berhubungan dengan sesuatu yang religius atau spiritual. Melainkan lebih ke sisi kemanusiaan. Berbuat baik untuk orang lain dan merasa memiliki tanggung jawab ini. Banyak orang yang bersedekah kala mereka menderita jelang kematiannya. Dalam kesakitannya, mereka mulai berempati terhadap kesakitan orang lain.

Sumber : IDNtimes

(Visited 21 times, 1 visits today)

You might also likeclose